MENJELANG ASIAN GAMES, KUALITAS UDARA DI JAKARTA TIDAK LAYAL DIHIRUP MENURUT STANDAR WHO


Menjelang Asian Games 2018, direktur jenderal pencemaran dan kerusakan lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karliansyah, mengatakan kementerian saat ini berusaha untuk mengurangi partikulat (PM) 2,5 kualitas udara di Jakarta dan Palembang. Dia menjelaskan beberapa langkah telah dilakukan.

[Kualitas udara] di Jakarta dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur. Rata-rata diukur pada 38 mikrogram per meter, kata Karliansyah di gedung kementerian, Jumat, 13 Juli. Sementara itu, Karliansyah menambahkan, Palembang memiliki kualitas udara yang baik. PM 2.5 diukur pada 8 mikrogram per kubik.

Karliansyah menjelaskan kualitas udara dan polutan akan mempengaruhi kesehatan atlet selama pertandingan. Dengan demikian, pemerintah berupaya mengurangi PM 2,5 di Jakarta. PM 2,5 di Jakarta tercatat sebesar 40 mikrogram per meter kubik rata-rata, sedangkan berdasarkan standar WHO, batas partikulat harus kurang dari 25 mikrogram per meter kubik.

Direktur polusi dan kerusakan lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dasrul Chaniago, menjelaskan materi partikulat 2,5 disebut sebagai debu halus, yang bisa masuk ke sistem pernapasan manusia dan mungkin menyebabkan penyakit paru-paru serta kanker paru-paru.

Sebelumnya Seorang peneliti dari Desert Research Institute, Sarath Guttikunda, menyatakan bahwa polusi di Jakarta dan daerah-daerah di sekitarnya menyebabkan 260.000 orang terinfeksi dengan masalah pernapasan dan dirawat di rumah sakit 85.000 orang setiap tahun. Angka-angka adalah hasil dari penelitian yang dilakukan dari 2012-2015. Ini memiliki kecenderungan yang meningkat.

Sarath menyatakan bahwa Jakarta Utara memiliki tingkat pencemaran tertinggi. Kandungan partikel di wilayah tersebut mencapai 125 µg / m³ (mikrogram per meter kubik). Ini melebihi batas keamanan sebesar 10-25 μg / m³.

Sarath menjelaskan bahwa puncak pencemaran Jakarta Utara di Pelabuhan Tanjung Priok dan perbatasan antara Jakarta Utara dan Barat. Kemacetan lalu lintas yang parah di daerah ini berperan sebagai penyumbang utama bagi tingkat polusi udara. Emisi industri adalah penyumbang terbesar kedua.

Post a Comment for "MENJELANG ASIAN GAMES, KUALITAS UDARA DI JAKARTA TIDAK LAYAL DIHIRUP MENURUT STANDAR WHO"